oleh

Armiyadi, Membawa Kopi Gayo dari Kebun hingga Pasar Global

Jakarta Bisnis.discoverynews.id – Bagi Armiyadi, bisnis kopi bukan sekadar bagaimana menjual biji kopi kepada konsumen. Dari dataran tinggi Gayo, Aceh, ia membangun Asa Coffee Gayo dengan mengembangkan usaha dari sisi hulu hingga hilir, mulai dari pembibitan, budidaya, pengolahan, hingga membuka akses pasar yang lebih luas.

Perjalanan tersebut membuat nama Asa Coffee Gayo tidak hanya dikenal di pasar lokal. Produk yang dikembangkan Armiyadi kini telah menembus sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, Korea Selatan, China, dan Jepang.

Kisah perjalanan Armiyadi tersebut menjadi perhatian Bank Indonesia melalui artikel “Sinergi Membawa Kopi Gayo dari Kebun hingga Pasar Global” yang diterbitkan pada 20 Agustus 2026. Dalam laporan tersebut, Bank Indonesia menggambarkan upaya Asa Coffee Gayo bersama petani dan berbagai pihak dalam meningkatkan kualitas budidaya, mendorong regenerasi petani, serta memperluas akses pasar.

Persoalan yang dihadapi Armiyadi ternyata tidak sederhana. Bank Indonesia mencatat dataran tinggi Gayo memiliki sekitar 120 ribu hektare perkebunan kopi. Namun, produktivitas rata-rata petani baru berada di kisaran 750 kilogram per hektare per tahun, sementara potensi produksinya dapat mencapai 1,5 hingga 2 ton per hektare per tahun.

Kondisi tersebut mendorong Armiyadi untuk tidak hanya memikirkan bagaimana kopi bisa dijual, tetapi juga bagaimana produksi di tingkat kebun dapat ditingkatkan.

Salah satu pendekatan yang dikembangkan Asa Coffee Gayo adalah sistem tanam pagar. Dengan metode tersebut, kepadatan tanaman dapat mencapai sekitar 4.000 pohon per hektare, lebih tinggi dibandingkan pola kebun konvensional yang umumnya sekitar 1.500 pohon per hektare. Bank Indonesia menyebut pendekatan ini menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas sekaligus membuat pengelolaan kebun lebih tertata.

Hasil penerapan sistem tersebut juga pernah diberitakan LintasGAYO pada April 2025. Dalam laporan tersebut, Armiyadi menyampaikan bahwa kebun model Asa Coffee seluas satu hektare dengan sistem tanam pagar mampu menampung sekitar 3.900 batang kopi. Pada usia empat tahun, kebun tersebut menghasilkan sekitar 10 ton ceri kopi dan produksi green bean yang dilaporkan telah mencapai sekitar 1,8 ton.

Armiyadi tidak berhenti pada persoalan produksi. Ia juga melihat regenerasi petani sebagai tantangan besar bagi masa depan kopi Gayo.

Dalam laporan Bank Indonesia, Armiyadi menyoroti kecenderungan generasi muda yang lebih tertarik menjadi barista dibandingkan menjadi petani. Padahal, menurutnya, industri kopi tetap membutuhkan petani sebagai bagian utama dari rantai produksi. Karena itu, edukasi dan pelatihan kepada generasi muda serta perempuan menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan pengetahuan bertani dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Gagasan Armiyadi tentang pentingnya petani yang memiliki pengetahuan juga pernah disampaikan kepada LintasGAYO. Dalam pemberitaan pada April 2025, ia mengajak generasi Gayo menjadi petani kopi yang cerdas dan memahami cara mengelola kebun secara modern.

Perjalanan bisnis Armiyadi sendiri bukan sesuatu yang baru dimulai beberapa tahun terakhir. Aceh Bisnis mencatat Armiyadi telah mengembangkan usaha kopi sejak 2006. Dalam laporan tersebut, Asa Kopi disebut bergerak dari sisi hulu hingga hilir, dengan Armiyadi terlibat dalam pembibitan, perawatan, pengolahan, hingga pemasaran kopi.

Aceh Bisnis juga melaporkan bahwa produk Asa Kopi telah dipasarkan ke berbagai negara. Untuk pengiriman dalam jumlah besar, Armiyadi disebut menangani langsung distribusi ke luar negeri, sementara kebutuhan pasar dengan volume lebih kecil dilayani melalui pengelolaan di Banda Aceh.

Model bisnis tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan kopi Gayo tidak berhenti ketika biji kopi keluar dari kebun. Ada proses panjang untuk memastikan produk memiliki kualitas, dikemas, dipasarkan dan akhirnya menemukan konsumen di berbagai negara.

Bank Indonesia mencatat pengembangan Asa Coffee Gayo juga mendapat dukungan melalui pendampingan manajemen bisnis, keikutsertaan dalam pameran, serta pertemuan dengan calon pembeli. Produk yang dipasarkan kini mencakup green bean, roasted bean, bubuk kopi hingga coffee shop.

Bagi Armiyadi, pengembangan bisnis juga berkaitan dengan bagaimana petani memperoleh manfaat dari meningkatnya permintaan pasar. Semakin kuat pasar yang dibangun, semakin besar pula peluang bagi petani binaan untuk mendapatkan akses terhadap permintaan produk kopi.

Perjalanan Asa Coffee Gayo menunjukkan bahwa membangun bisnis dari komoditas lokal membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan menjual. Pengetahuan tentang produksi, keberanian melakukan inovasi, hubungan dengan petani, kemampuan membaca pasar dan membangun jaringan menjadi bagian yang saling berkaitan.

Dari kebun kopi di dataran tinggi Gayo, Armiyadi mencoba membangun rantai usaha yang menghubungkan petani dengan konsumen di berbagai negara. Cerita tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana komoditas daerah dapat memiliki nilai ekonomi yang lebih luas ketika dikelola dari hulu hingga hilir.

Bagi dunia usaha, kisah Armiyadi menjadi gambaran bahwa membangun bisnis tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Potensi yang ada di sekitar dapat dikembangkan melalui pengetahuan, inovasi dan keberanian membuka pasar baru.

Sumber: Bank Indonesia, “Sinergi Membawa Kopi Gayo dari Kebun hingga Pasar Global” (20 Agustus 2026); Aceh Bisnis, “ASA Kopi, dari Tanah Gayo untuk Dunia” (17 November 2022); dan LintasGAYO, “Sistem Pagar Usia 4 Tahun, Kebun Model Asa Coffee Hasilkan 10 Ton Produksi” (10 April 2025).

Bisnisku
Author: Bisnisku

Dukungan Sponsor

Dukung Jurnalisme Independen Discovery News

Bantu kami terus menyajikan berita akurat, mendalam, dan terpercaya untuk masyarakat. Kontribusi Anda sangat berarti bagi kelangsungan media kami.

☕ Dukung Sekarang