JAKARTA, Bisnis.discoverynews.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah pada perdagangan Jumat (25/9/2026), mengikuti tekanan yang terjadi di mayoritas bursa saham kawasan Asia.
IHSG turun 56,72 poin atau 0,90 persen ke level 6.241,89. Sementara itu, indeks saham unggulan LQ45 melemah 2,15 poin atau 0,34 persen menjadi 621,11.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, mengatakan pelaku pasar masih mencermati perkembangan hubungan perdagangan Amerika Serikat (AS) dan China, termasuk pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping.
Pertemuan tersebut menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi arah hubungan perdagangan kedua negara. Selain isu ekonomi, kecerdasan buatan (AI) juga menjadi salah satu topik yang dibahas dalam pertemuan tersebut.
Tekanan terhadap pasar saham juga datang dari masih tingginya harga minyak dunia serta meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi. Kondisi tersebut turut memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama.
Sejumlah pejabat The Fed juga menyampaikan bahwa pengendalian inflasi masih menjadi perhatian, sehingga pasar memperhitungkan kemungkinan adanya pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut.
Dari dalam negeri, pergerakan harga minyak mentah menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor karena dapat berdampak terhadap kondisi fiskal Indonesia. Pelaku pasar juga bersikap hati-hati menjelang rilis data neraca perdagangan Agustus 2026 dan inflasi September 2026 pada pekan berikutnya.
Seluruh Sektor Melemah
Pada perdagangan Jumat, seluruh 11 sektor yang tercatat dalam indeks sektoral IDX-IC mengalami penurunan.
Sektor industri menjadi sektor yang mengalami pelemahan terbesar, yakni 2,30 persen, disusul sektor infrastruktur sebesar 2,03 persen dan sektor properti sebesar 1,34 persen.
Aktivitas perdagangan mencatat sekitar 1,58 juta transaksi, dengan volume perdagangan mencapai 26,20 miliar saham senilai Rp9,37 triliun.
Sebanyak 122 saham menguat, 587 saham melemah, sementara 254 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga.
Di kawasan Asia, pergerakan bursa berlangsung beragam. Nikkei Jepang menguat 1,45 persen ke 66.466,00, sedangkan Shanghai turun 1,22 persen ke 3.888,37 dan Hang Seng melemah 1,01 persen ke 24.510,09. Sementara itu, Kuala Lumpur turun tipis 0,04 persen dan Straits Times Singapura menguat 0,51 persen.
Dengan kondisi tersebut, investor masih mencermati perkembangan ekonomi global, kebijakan suku bunga The Fed, harga minyak, serta hubungan perdagangan AS-China sebagai sejumlah faktor yang dapat memengaruhi pergerakan pasar saham dalam waktu dekat.









